Malam  datang. Bulan bersinar terang. Cahayanya malu – malu menembus polusi yang sudah terlalu menumpuk di kota ini. Kedipan bintang tak tampak. Malam telah meninggi. Menyelimuti mimpi – mimpi indah para pemimpi. Mengantarkan doa – doa para pendoa ke langit. Membawa harapan para pendoa. Mendengar cerita sendu tentang rindu dan tangis hati yang telah retak bagi siapapun yang menangis malam ini.

Malam mulai meninggi. Kegelapan datang. Semerbak seduhan aroma bunga camomile memenuhi indera pembau ini. Memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi hati dan pikiran yang telah lelah ini. Selain kalimat “Laa Hawla wa Laa Quawwata illa Billah” yang tak henti – hentinya keluar dari mulut ini. Lagu “Honest” dari Kodaline melantun sendu keluar dari headphone membuat suasana ruangan 4 x 5 meter ini menjadi begitu pilu. Mata ini terpejam, menikmati suasana yang tercipta.

Dalam kegelapan, Tangan besar itu perlahan – lahan turun dari langit. Melambai – lambai. Seakan mengatakan “Kemarilah”. Tanpa komando, kaki ini melangkah secepatnya menuju Tangan yang turun tersebut. Tangan itu mengeluarkan sesuatu yang sepertinya tak asing lagi dan memberikannya. Pikiran ini menyelam kedalam lautan ingatan. Mencari ingatan akan sesuatu yang hendak diberikan Tangan itu. Belum selesai pikiran ini mencari, tangan ini menerima pemberian Tangan besar itu. “Oh, jangan kau terima sesuatu itu!”, teriak pikiran yang telah menemukan ingatan akan sesuatu yang tak asing lagi itu. Tapi apadaya, Tangan itu telah menghilang ditelan kegelapan. “Ah, sepertinya kegembiraan telah datang”, gumam hati yang bangun dari tidurnya yang lama. Seketika itu juga, kegelapan perlahan – lahan hilang. Berganti menjadi cahaya yang indah. “Aku akan datang kembali!”, teriak kegelapan dalam ketiadaan.

Malam sedikit meninggi. Sunyi mulai datang. “Laa Hawla wa Laa Quawwata illa Billah” masih saja keluar dari mulut ini. Semerbak aroma seduhan bunga camomile masih memenuhi ruangan ini. Senandung “Honest” dari Kodaline telah berganti menjadi “High Hopes”. Masih dari band yang sama. Mata ini terpejam.

Cahaya yang indah itu semakin hari menjadi indah. Sesuatu yang asing itu kini telah menguasai pikiran. Meluluhkan penolakan keras dari pikiran. “Entah kenapa, kau semakin indah”, kata pikiran. Hati menari dan tertawa gembira bersama sesuatu yang tak asing itu. Pikiran dan hati bersatu padu ingin memeluk dan tak akan melepaskan sesuatu yang tak asing itu. Seakan sesuatu itu merupakan milik mereka yang telah dijanjikan oleh Tangan besar. “Hai, aku kembali lagi!”, teriak kegelapan dari kejauhan. Tiba- tiba Tangan besar itu datang. Hendak merebut sesuatu yang tak asing itu. Hati dan pikiran kukuh mempertahankan sesuatu yang tak asing itu. Tapi apa daya, Tangan lebih kuat dari hati dan pikiran. Dengan seenaknya, Tangan itu mengambil sesuatu yang tak asing dari dekapan hati dan pikiran. “Ini bukan milikmu dan kau tak berhak bersamanya”, kata Tangan. Kegelapan mulai datang, cahaya mulai menghilang bersamaan dengan menghilangnya Tangan Besar itu. “Hai, apakah ada yang mau kalian ceritakan?”, tanya kegelapan. Hati menangis. Pikiran tertunduk lesu. “Banyak”, sahut mereka bersamaan.

Malam sudah meninggi. Sunyi dan gelap. Aroma seduhan bunga camomile telah hilang, tapi efeknya perlahan – lahan sedikit menenangkan hati yang terus saja merajuk dan menangis. Setelah beberapa lama, hati tertidur untuk waktu yang lama. Entah kapan terbangun kembali. Lagu “High Hopes” telah berganti menjadi “All I Want” masih dari Kodaline. Malam ini hanya tiga lagu tersebut yang selalu melantun sendu keluar dari headphone. “Laa Hawla wa Laa Quawwata illa Billah” perlahan – lahan menghilang dari ucapan. Berubah menjadi beribu pertanyaan yang mempertanyakan kebijakan-Mu. Mata ini terpejam, ingin sekali bertemu.

Lalu apa gunanya aku berusaha keras untuk mengubah nasibku. Mendapatkan apa yang aku inginkan bila ternyata aku tak berdaya atas apa yang sudah Kau tulisankan suatu kisah dengan tinta-Mu jauh sebelum aku lahir di dunia ini?

aku jatuh dilubang yang sama. Kau tahu itu? Apa yang Kau inginkan? Belajar dari kesalahan sebelumnya dan memperjuangkan wanita itu?

Aih, apalah aku ini. Hanya sebuah butiran debu yang tak berdaya di hadapan-Mu. Percuma aku berjuang kalaupun ternyata ini sudah dituliskan. Kau pun tahu kan?

Masih banyak pertanyaanku. Mungkin tak akan langsung Engkau jawab. Mungkin aku akan menunggu datang hingga fajar menyising. Atau, aku akan menunggu hingga 30 kali fajar datang atau mungkin aku harus menunggu hingga ratusan fajar datang untuk mendapatkan jawaban dari Engkau. Ya! Mungkin aku hanya bisa menunggu. Maafkanlah aku yang telah lancang mempertanyakan skenario-Mu dan berilah aku tanda – tanda apa yang harus kuperbuat di dalam hidupku. Aku akan menunggu.......

Dan yah....

Semoga senyum selalu terkembang di wajahmu. Semoga kau bahagia, wahai wanita yang telah sudi membubuhkan tintamu dalam kertasku yang masih kotor ini. Semoga kau selalu bahagia.

Laa Hawla wa Laa Quawwata illa Billah” mulai terucap kembali......

Tangerang, 07 Agustus 2017


Cipta Swastika

Sudah bulan Agustus nih. Biasanya kalo udah masuk bulan ke–delepan, kampung – kampung maupun kota besar di Indonesia penuh dengan ornamen, hiasan dan bendera merah putih di setiap sudutnya. Hiruk pikuk kemerdekaan sudah mulai terasa pada awal bulan dan hari – hari selanjutnya hingga biasanya sebelum tanggal 17 Agustus, euforia kemerdekaan ditandai dan dilanjutkan dengan dengan lomba – lomba kemerdekaan. Seperti lomba makan kerupuk *ini nih, lomba paling meriah, gampang – gampang sulit dan pastinya paling banyak dinikmati anak – anak*, pecah air, balap karung dan lomba yang memerlukan kerja sama dan kerja keras, panjat pinang! Kebanyakan lomba – lomba itu diperuntukkan untuk anak – anak dan digunakan untuk srawung (bersosialisasi) dan guyub (berkumpul) antar warga di lingkungan tersebut. Menang dan kalah tidak dipermasalahkan di lomba tersebut, yang penting asyyiikkk brooo, semuanya ketawa dan tegang melihat tingkah anak kecil saat berlomba.

Euforia kemerdekaan juga sangat terasa di lingkungan rumahku. Hiasan bendera merah putih plastik terpasang di sepanjang jalan. Panitia kemerdekaan *eh salah, panitia HUT RI* mulai dibentuk pada awal bulan dan lomba – lomba mulai diadakan mulai dari tanggal 8 Agustus 2016 dengan dibukanya pertandingan ping – pong antar bapak – bapak dan pemuda di lingkungan rumah. Lomba – lomba kemerdekaan yang diadakan panitia untuk anak – anak adalah lomba pecah air, lomba makan krupuk, lomba futsal 4 vs 4 dan lomba jelajah. Untuk lomba jelajah, anak – anak di bagi per kelompok dan di acak untuk nantinya menjelajah di lingkungan sekitar. Anak – anak ditugaskan untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh panitia. Anak – anak menjawab pertanyaan di setiap pos yang ada. Pertanyaan – pertanyaan seputar Indonesia seperti lambang sila ke- tiga dan seputar lingkungan rumah.

Ada kejadian lucu, entah karena panitia yang kebanyakan masih muda atau apa, mereka salah saat memberikan jawaban pertanyaan lambang pancasila sila ke – tiga. Mereka justru menjawab kepala banteng untung lambang sila ke – tiga. Heemm, mungkin mereka mabuk. Padahal kan jawaban yang benar pohon beringin, hehehe. Mungkin mereka harus banyak belajar kepada Zaskia Go**ik yang merupakan duta pancasila, agar mereka lebih pintar goyang itiknya, hehehe. Eh salah, lebih pintar pancasilanya.

Selain lomba kemerdekaan, panitia juga mengadakan acara yang dapat diikuti oleh semua elemen masyarakat, seperti jalan sehat dan malam tirakatan. Jalan sehat ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat di lingkunganku, mulai dari anak – anak hingga orang tua a.k.a senior ikut semua. Jalan sehat ini diadakan pada tanggal 14 Agustus 2016, pada hari minggu pagi. Pas banget dah. Pas semuanya pada di rumah dan enggak ada acara keluar. Jalan sehat kali ini memiliki door prize yang wow. Door prize utamanya adalah 1 buah TV LED merk china – yang namanya susah disebut itu dan diawali dengan huruf “C” diakhiri dengan huruf “G” –  dan beberapa door prize yang nilainya melebihi harga tiket. Harga tiket yang dipatok oleh panitia adalah RP.10.000,-/3 tiket. Amat murah sekali kan? Selain itu ada demo masak dari salah satu perusahan toples ternama di Indonesia yang mayoritas warnanya pink dan diawali dengan huruf “T”.

Acara Jalan Sehat Pada Saat Pembagian Door Prize
Semua elemen masyarakat mengikuti acara jalan sehat dan memakai seragam yang sama *kayak panti asuhan aja, hehehe*. RT 08 memakai dress code orange dan RT 07 memakai dress code baju RT 07 yang warnanya abu – abu. Bagus sih, tapi serasa enggak kayak bersatu gitu deh. Seharusnya pengurus RW juga membuat dress code yang bisa digunakan pada saat acara – acara seperti ini *masukan aja sih*. Jalan sehatnya hanya memutari satu padukuhan saja sih. Hampir sama seperti tahun sebelum – sebelumnya *seingetku*, karena 2 tahun yang lalu aku tidak ikut. Tahun pertama aku tidak ikut karena sedang KKN dan tahun ke- dua karena lagi menjelajah negeri kangguru, hehehe. Pokoknya treknya hampir sama deh, jarang banget berubah, hehehe.

Salah Satu Sudut Dan Tempat PeWe Untuk Melepas Lelah. Kebetulan Itu Para Ibu-Ibu RT 07 Dengan Baju Abu-Abu Kebanggaan.
Sejam lebih warga berjalan kaki mengitari padukuhan yang sejatinya enggak begitu jauh dan juga enggak begitu dekat. Yang menampakkan batang hidung pertama kali di garis finish ternyata bukan anak kecil, melainkan seorang bapak yang mempunyai 3 anak. Ueedyaaannn, sangar lek!. Skip, setelah semua peserta mencapai garis finish, MC pun mengambil alih acara. Acara pembagian door prize kecil – kecilan pun dimulai. Di sela – sela pembagian door prize, banyak yang melepas penat dan makan makanan kecil. Setengah jam berlalu, pembagian door prize di hentikan dan di lanjutkan demo masak oleh salah satu perusahaan toples ternama di Indonesia. Banyak ibu – ibu yang berminat untuk melihat demo masak tersebut. Ada 1-2 bapak – bapak yang ikut melihat juga. Tanpa di duga, anak – anak antusias terhadap demo masak tersebut. Tau sendiri lah demo masak itu kayak gimana, mereka menonjolkan keunggulan produknya dan sebagai ajang promosi produk.
Makanan Ringan Berupa Arem-arem Dan Roti Untuk Para Peserta.

Acara Demo Masak.
Setelah demo masak selesai, pembagian door prize pun dilanjutkan. Saat di tengah – tengah ketegangan apakah mereka memenangkan door prize atau tidak, MC berkata bahwa door prize selanjutnya berupa burung – aku lupa namanya, tapi yang suka ikut kontes berkicau dan berwarna hijau – dan sontak bapak – bapak berteriak kegirangan. Mungkin karena harga burung tadi terbilang mahal dan katanya pernah memenangkan sebuah kontes kicauan. Wow, banyak bapak – bapak maupun remaja yang menyukai dunia per-burungan, hehehe, menampakkan ekspresi tegang mereka dan berharap – harap cemas bahwa salah satu dari mereka dapat mendapatkan burung tersebut.

Itu Tuh Burung +Sangkarnya. Keliatan Nggak?
Undian pun ditarik dan MC membacakan nomor tiket yang beruntung tersebut dengan amat pelan sekali. Tujuh belas...... enol delapan...... kosong..... lima...... *penonton pun mulai tegang* enammmm....... *muka – muka bapak – bapak pun mulai tegang berharap mendapatkan burung tersebut* delaapaaannn...... *sontak suara – suara kecewa pun pecah*. Detik – detik pun berlalu dan tak ada yang maju untuk mengambil burung tersebut. Penonton pun mulai gaduh. Di tengah kegaduhan tersebut muncullah sesosok anak perempuan dengan tangan diangkat ke atas dan memegang tiket berjalan ke MC. Sontak kegaduhan pun makin pecah.

Muka - muka Tegang. Liat Tuh, Tiketnya Udah Berbaris Rapi.

Wah, seng menang bu iki. (wah, yang menang ibu ini)”,
“Ibu e hurung nduwe manuk kae, hahaha (ibunya belum punya burung itu, hahaha). Beruntung itu ibunya”.
Yah, begitulah suara – suara yang keluar dari penonton.

Ada cerita lucu saat di tengah – tengah pembagian door prize. Pada saat itu, yang akan dibagikan adalah dua buah sarung asli khas dari Kalimantan, kalau tidak salah, dan saat MC melihat sarung tersebut, masih terdapat barcode harga di sarung tersebut. Sontak MC pun membacakan harga yang tertera di sarung tersebut. “Ini nih, harga sarungnya RP.340.000. wah, Bu RW marah ini” *FYI, yang menyumbangkan sarung tersebut adalah Pak RW*. Tak disangka yang berhak mendapatkan sarung tersebut adalah seorang takmir dan alim di lingkunganku. Seluruh penonton pun bersyukur dan serentak tanpa di komando mengucapkan hamdallah. “Alhamdulillah!”.

Acara pembagian door prize dilanjutkan kembali. Ketegangan mulai meningkat saat pengundian door prize utama. Banyak penonton yang masih memiliki tiket dan yang belum kebagian tiket berharap – harap cemas. Menggenggam tiket mereka dengan kuat. Ada juga yang mengadahkan kedua tangan ke atas meminta keberuntungan Tuhan. Saat nomor dibacakan, pecahlah seluruh kekecewaan para peserta dan hanya tiga suara kegirangan yang muncul dengan amat keras disaat suara kekecewaan. Mereka adalah pemegang nomer yang berhak mendapatkan TV LED tersebut. Yak, ketiga suara tersebut adalah satu keluarga. Setelah serah terima door prize utama, banyak warga yang langsung pulang untuk beristirahat.
Kesibukan Remaja Saat Melayani Pesanan. Abaikan yang lagi minum yak.

Sibuk!!! Dan itu tuh Menunya.
Saat di acara lomba sehat itu, para remaja perempuan berjualan makanan hasil kreasi mereka untuk mendapatkan tambahan dana. Dana tersebut digunakan untuk kas organisasi pemuda. Menu yang ditawarkan dan yang paling menarik adalah SAPI COKLAT! Hah, masak iya jualan sapi di acara kayak gini?. Yap, banyak yang keheranan membaca menu tersebut. Ternyata SAPI itu hanya singkatan dari “SAte PIsang”. Alhamdulillah, dengan jemput bola dan warga yang sangat welcome terhadap usaha para pemuda, semua menu laris manis. Dengan harga yang murah, banyak warga yang menyukai usaha mereka, tapi yah begitulah, untungnya hanya sedikit.

Penampakkan Para Calon Ibu Yang Kreatif *hemmm, mungkin enggak kreatif juga sih*.

Last but not least, itulah acara jalan sehat dari lingkungan rumahku, tapi bukan door prize yang dicari. Melainkan ke – guyuban yang ditimbulkan oleh sesama warga. Acara tersebut digunakan untuk saling mempererat hubungan silahturahmi antar warga. Selain itu, acara kemerdekaan juga sebagai cara yang ampuh untuk mengumpulkan warga dan saling bersilahturahmi. 
Akhirnya Yudisium
Sulit memang memecah kerumunan kendaraan di jalanan Kota Jogja pada saat jam sibuk. Harus memiliki kemampuan berkendara yang mengagumkan bila ingin cepat sampai ke tujuan saat jam – jam sibuk. Jalanan Kota Jogja sekarang ini sudah berubah amat sangat drastis. Saat aku masih ingusan, jalanan kota Jogja masih amat sangat lengang dan sekarang saat aku sudah brewokan, jalanan kota ini berubah menjadi kepulan asap kendaraan bermotor yang sangat pekat. Well, pagi itu aku ketiduran dan bangun pukul 09:19 WIB, padahal hari itu ada acara penting dalam hidup pada jam 10:00 WIB, yaitu yudisium. Bangun tidur dan tertegun lah aku saat melihat jam di dinding kamar yang cat sudah memudar dan sedetik kemudian ku hisap rokok lintingan dalam – dalam. Satu batang rokok habis sudah, langsung saja aku mandi seadanya dan memakai dress code acara wisuda, yaitu hitam putih dan berdasi hitam, semprot parfum sana – sini. Sempat kebingungan mencari smartphone kesayangan yang sudah butut, 15 menit kemudian ku pacu motorku menuju jalan raya yang sudah padat.

Salah Satu Kemacetan Di Jalan Solo Deket Amplaz
sumber: Google
Wisuda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti  peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat. Biasanya acara wisuda ini akan dihadiri oleh anggota keluarga wisudawan/i yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Orang tua wisudawan/i dengan wajah sumringah melihat anaknya telah dinyatakan resmi berhak menyandang gelar sarjana *gilakkk, udah sarjana brooo*. Bila yang di wisuda anak pertama di dalam keluarga tersebut, biasanya satu trah (keluarga besar) akan menghadiri acara wisuda tersebut atau bisa juga satu desa akan datang sehingga menyebabkan banyak mobil/bus parkir disekitaran gedung acara wisuda dan menyebabkan kemacetan di jalan *hasil dari pengamatan sekilas selama 4 tahun kuliah di UGM sih*. Yah, walaupun banyak orang tua yang tinggal jauh dari Jogja, pasti dibela-belain dateng ke acara wisuda anaknya dengan memakai baju terbaik yang mereka punya*hasil dari pengamatan sekilas*.
Berbicara mengenai masa lalu, kita pasti akan merasa senang bila masa lalu yang kita bicarakan adalah masa – masa yang indah dan sebaliknya kita akan menangis bila kita mengingat masa lalu yang menyedihkan. Masa lalu tak bisa kita buang begitu saja dari rak – rak ingatan yang ada di otak kita, masa lalu akan selalu ada di rak paling bawah ingatan kita. Akan ada saatnya dimana kita bertemu dengan kondisi yang mengharuskan kita membaca kembali masa lalu kita dan dia bisa saja seenaknya menampkan diri di rak paling atas yang membuat kita mau tak mau membacanya. Itulah masa lalu, kita tak perlu membuangnya karena dengan masa lalu kita dapat belajar dan menjadikannya acuan untuk melangkah ke depan ataupun untuk berbuat sesuatu di masa depan.

Saya memiliki milyaran masa lalu yang masih tersimpan rapi di rak paling bawah ingatan saya dan entah mengapa malam ini saya ingin menuliskan dan memunculkan lagi ingatan tentang seseorang yang pernah ada di masa lalu saya. Seorang yang wanita pastinya, yang telah memberikan cerita dan warna di kehidupan saya selama kurang lebih setahun. Wanita yang bisa dibilang pacar saya dulu (Mantan –RED) dan saya masih penasaran – hingga sekarang – dia bisa mencintai saya dan mau – maunya menjadi pacar saya, hahaha. Entah mengapa, tak ada alasan yang jelas, karena cinta tidak butuh alasan untuk mencintai kan?.
“ And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”
-          Paulo Coelho “The Alchemist”

Dengan bermodalkan nekat dan prinsip dari Paulo Coelho, salah satu penulis hebat, tibalah saya di pertigaan – yang saya tak tahu namanya – sambil meratapi angkot petaka yang berasap ria di sepanjang Jalan Brawijaya. Yah, tak ada salahnya saya berjalan lagi. Toh, jaraknya tidak terlalu dekat. Itulah yang pertama saya pikirkan, sehingga dengan segenap jiwa raga saya berjalan menyusuri Jalan Brawijaya. 10 menit saya berjalan, ternyata pikiran saya salah karena tanda – tanda adanya lembaga kursus “Global English” di pinggir jalan belum juga muncul.  Butuh waktu sekitar 20 menit dari pertigaan – yang saya tak tahu namanya – ke lembaga kursus “Global English”. Baju ini penuh dengan peluh keringat sesampainya di kantor lembaga kursus “Global English” dan di halaman kantor sudah berkumpul puluhan orang dari seluruh Indonesia. Melihat gerombolan manusia asing di halaman kantor, saya menjadi panik karena khawatir kuota untuk tanggal 25 Mei 2016 sudah habis. Dengan sisa – sisa tenaga yang saya miliki, saya berusaha memecah gerombolan manusia asing tersebut dan masuk ke dalam kantor “Global English”. Di dalam kantor, keadaannya tak berbeda jauh dengan di halaman kantor dan lebih pengap karena jarang adanya sirkulasi udara. Setelah tanya sana – sini dan sok kenal sok dekat ke beberapa manusia asing itu, kepanikan saya semakin menjadi – jadi karena mayoritas manusia – manusia itu sudah mendaftar via online. Bagaimana ini, kalau saya kehabisan kuota, saya harus berjalan kaki lebih jauh lagi.

Tampak Depaan Kantor "Global English".
Sumber : Google
Prinsip dari Paulo Coelho saya pegang teguh karena saat itu – hingga saat ini – saya masih menginginkan untuk pergi ke Aussie. Namun untuk mencapai apa yang benar – benar saya inginkan, kemampuan berbahasa inggris saya masih dalam skala “yes or no” saja dan ke Pare adalah langkah awal untuk mencapai impian saya. Setelah 20 menit mengantri untuk mendapat giliran mengambil sembako gratis, eh salah.... Setelah 20 menit mengantri akhirnya saya mendapatkan kesempatan duduk dan bertanya kepada mas – mas kece di belakang meja pendaftaran.

Saya (S) : Mas, pendaftaran untuk tanggal 25 Mei masih dibuka?
Mas Kece (MK) : Masih mas. Mau kursus berapa bulan? *menunjukkan daftar harga*
S : Sebulan aja mas *melihat daftar harga*.
MK : Oke. Atas nama siapa?

Tanggal 25 Mei 2016 pukul 01:00 WIB dengan bermodalkan baju seadanya di tas carrier 80 liter hasil pinjaman teman yang sudah satu tahun lebih belum juga saya kembalikan, kaki ini tiba di salah satu stasiun terbesar di Yogyakarta, Stasiun Tugu Yogyakarta untuk pergi pergi ke Pare, Kediri. Kalian tahu kan di pare banyak sekali lembaga kursus bahasa inggris disana? Katanya sih tumpah ruah, tapi ya saya kurang tahu. Namun karena namanya modal nekat, lembaga kursus di Pare dan tiket kereta api ke Kediri juga belum saya dapatkan. Langsung saja saya masuk ke pintu timur stasiun yang sepi sekali dan hanya ada satu loket tiket yang masih buka, loket tiket go show. Malam itu Stasiun Tugu seperti stasiun mati, hanya ada beberapa orang yang masih terbangun. Langsung dah tanya mas – mas yang ada di loket ada kereta tujuan Kediri ada apa saja.

Yap, dengan berbagai pertimbangan yang matang karena saya ingin tidur pulas, akhirnya terpilihlah tiket kereta api Gajayana seharga Rp150.000 WIB yang akan berangkat pukul 02:00 WIB. Mahal juga sih harganya untuk relasi Yogyakarta – Kediri, tapi yah untuk tidur nyaman juga tidak apa – apa karena paginya saya harus bersafari di Kediri. Dan eng – ing – eng, keretanya telat 30 menit lebih!! Terpaksa lah saya menunggu lebih lama di stasiun. Skip.... Skip, pukul 06:30 WIB saya tiba di Stasiun Kediri dan hampir kelewatan karena saya tidur pulas sekali di kereta. Oya, pemandangan sunrise dari dalam kereta bagus juga lho.
Interior Kereta Api Gajayana. Yah, Standar Eksekutif Sih.
Keluar dari Satsiun Kediri banyak sekali tukang becak yang menawarkan jasanya untuk mengantar ke halte bus yang akan ke Pare/Surabaya atau para tukang ojek yang bersedia mengantar langsung ke Pare. Namanya juga baru bangun tidur, penawaran mereka tidak saya gubris dan yang ada pikiran hanya ingin udud, hehehe. Tapi ada satu bapak yang  setia menunggu saya selesai udud. Yuhu, karena sebelumnya saya searching harga untuk jasa mereka, yang sekitar Rp7.000 – Rp20.000, saya melakukan tawar – menawar dengan bapak yang setia menunggu tadi.
Stasiun Kediri. Masih Ada Jam Antiknya.
Previous PostOlder Posts Home